Oleh: infoeduspirit | Januari 5, 2009

Refleksi Akhir Tahun Bersama Paulo Freire

REFLEKSI AKHIR TAHUN BERSAMA PAULO FREIRE

Tidak sengaja, malam akhir tahun Masehi 2009 yang hingar bingar, dengan petasan dan serangan Israel ke Palestina. Terbersit keinginanku untuk membuka-buka kembali buku yang sudah lama tidak terbaca. Hanya satu hempasan jemari saja, buku itu telah membawaku ke salah satu bab tentang pemikiran Paulo Freire yang paradigmanya diikuti banyak pakar Pendidikan di Indonesia.

Sebenarnya sih, maksud hati ingin sekali buat tulisan tentang penderitaan orang-orang Palestina dari serangan Israel. Tapi apa daya, pikiranku kok lebih kuat buat tulisan tentang pendidikan. ”Yang penting aku selalu berdoa semoga rakyat Palestina mampu mengatasi persoalan politik negaranya. Dan negara-negara di dunia selalu mendukung perjuanganya, Amin.” Cuma itu yang bisa kulahirkan dari sanubari.

Tak kusadari, sekarang posisi dudukku sudah sangat siap melahab beberapa artikel tentang Paulo Freire. Paragraf pertama tulisan itu membuatku penasaran, katanya begini, ”untuk menggambarkan betapa pentingnya Freire dalam dunia pendidikan bisa disimak dari statemen Moacir Gadotti dan Carlos Alberto Torres (1997) ’Educators can be with Freire or against Freire, but not without Freire.’ Pernyataan ini menunjukkan signifikansi Freire dalam diskursus pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia (ada sembilan buku yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia). Sebagai seorang humanis-revolusioner, Freire menunjukkan kecintaannya yang tinggi kepada manusia. Dengan kepercayaan ini ia berjuang untuk menegakkan sebuah dunia yang ‘menos feio, menos malvado, menos desumano’ (less ugly, less cruel, less inhumane)”. Dari paragraf ini, tahu-tahu menumbuhkan benih pertanyaan, “mengapa Freire punya banyak pengikut?”

Dalam artikel lain, aku menemukan jawaban dari pertanyaan yang memaksaku untuk mengungkapkannya, bahwa menurut kesaksian Martin Carnoy (1998), Pauli Freire memiliki banyak pengikut dikarenakan dia mempunyai arah politik pendidikan yang jelas. Selanjutnya dikatakan, “Inilah yang membedakannya dengan Ivan Illich. Arah politik pendidikan Freire berporos pada keberpihakan kepada kaum tertindas (the oppressed). Kaum tertindas ini bisa bermacam-macam, tertindas rezim otoriter, tertindas oleh struktur sosial yang tak adil dan diskriminatif, tertindas karena warna kulit, jender, ras, dan sebagainya. Paling tidak ada dua ciri orang tertindas. Pertama, mereka mengalami alienasi dari diri dan lingkungannya. Mereka tidak bisa menjadi subyek otonom, tetapi hanya mampu mengimitasi orang lain. Kedua, mereka mengalami self-depreciation, merasa bodoh, tidak mengetahui apa-apa. Padahal, saat mereka telah berinteraksi dengan dunia dan manusia lain, sebenarnya mereka tidak lagi menjadi bejana kosong atau empty vessel, tetapi telah menjadi makhluk yang mengetahui.”

Tidak lama kemudian banyak pertanyaan muncul dikepalaku, salah satunya, “bagaimana mengemansipasi mereka yang tertindas itu, sehingga Paulo Freire memiliki banyak Pengikut ?.” Beberapa paragraph dari beberapa tulisan menjawab begini, Freire berangkat dari konsep tentang manusia. Baginya, manusia adalah incomplete and unfinished beings. Untuk itulah manusia dituntut untuk selalu berusaha menjadi subyek yang mampu mengubah realitas eksistensialnya. Menjadi subyek atau makhluk yang lebih manusiawi, dalam pandangan Freire, adalah panggilan ontologis (ontological vocation) manusia.”

Selanjutnya Freire menjelaskan, dehumanisasi adalah distorsi atas panggilan ontologis manusia. Filsafat pendidikan Freire bertumpu pada keyakinan, manusia secara fitrah mempunyai kapasitas untuk mengubah nasibnya.”

Dengan demikian, menurut Freire bahwa, ”tugas utama pendidikan sebenarnya mengantar peserta didik menjadi subyek. Untuk mencapai tujuan ini, proses yang ditempuh harus mengandaikan dua gerakan ganda: meningkatkan kesadaran kritis peserta didik sekaligus berupaya mentransformasikan struktur sosial yang menjadikan penindasan itu berlangsung. Sebab, kesadaran manusia itu berproses secara dialektis antara diri dan lingkungan. Ia punya potensi untuk berkembang dan mempengaruhi lingkungan, tetapi ia juga bisa dipengaruhi dan dibentuk oleh struktur sosial atau miliu tempat ia berkembang. Untuk itulah emansipasi dan transendensi tingkat kesadaran itu harus melibatkan dua gerakan ganda ini sekaligus.”


Jelasnya menurut Freire, ”Idealitas itu bisa dicapai jika proses pembelajaran mengandaikan relasi antara guru dan peserta didik yang bersifat subyek-subyek, bukan subyek-obyek. Tetapi, konsep ini tidak berarti hanya menjadikan guru sebagai fasilitator an sich, karena ia harus terlibat (bersama-sama peserta didik) dalam mengkritisi dan memproduksi ilmu pengetahuan.”

Guru, dalam pandangan Freire, ”Tidak hanya menjadi tenaga pengajar yang memberi instruksi kepada anak didik, tetapi mereka harus memerankan dirinya sebagai pekerja kultural (cultural workers). Mereka harus sadar, pendidikan itu mempunyai dua kekuatan sekaligus: sebagai aksi kultural untuk pembebasan atau sebagai aksi kultural untuk dominasi dan hegemoni; sebagai medium untuk memproduksi sistem sosial yang baru atau sebagai medium untuk mereproduksi status quo.”

Kesimpulan dari pernyataan Freire diatas dan refleksi akhir tahun yang tak sempat kurayakan ini, bahwa jika pendidikan dipahami sebagai aksi kultural untuk pembebasan, maka pendidikan tidak bisa dibatasi fungsinya hanya sebatas area pembelajaran di sekolah. Ia harus diperluas perannya dalam menciptakan kehidupan publik yang lebih demokratis. Untuk itu, dalam pandangan Freire, “reading a word cannot be separated from reading the world and speaking a word must be related to transforming reality.” Dengan demikian, harus ada semacam kontekstualisasi pembelajaran di kelas. Teks yang diajarkan di kelas harus dikaitkan kehidupan nyata. Dengan kata lain, harus ada dialektika antara teks dan konteks, teks dan realitas. (Admin-Yayasan)

Sumber : www.Infoeduspirit.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: