Oleh: infoeduspirit | Februari 17, 2009

DASI PAK KARSO

Author. Purwalodra

Pak Karso, belum selesai berpikir, dan tidak bakal pernah selesai. Ia tidak bisa tidur, dan tidak akan pernah bisa tidur. Jam dinding, yang tak pernah lagi dilihatnya, setiap saat berdenting keras. Waktunya menunjuk angka berapa saja. Matanya, yang sudah tidak bersih, meradang, menahan kantuk. Berkali-kali, ia menarik nafas panjang. Begitu ia melihat dasi merah hati, ditangannya. Dia pikir, dasi ini yang telah melahirkan banyak peristiwa, mengerikan. Pikirannya, seenaknya saja, keluar masuk di batok kepalanya, berlari dan sulit untuk kembali. Sering sampai dini hari, Ia tidak berani melepas, menggunakan, apalagi membuang dasi, yang selalu ada digenggamannya. Dulu, istrinya, sangat bangga jika suaminya mau mengenakannya. Namun, sekarang ia tinggal bersama teman-temannya, di sebuah kamar besar. Sesuka hatinya.

Dasi merah hati, yang sekarang berada di tangannya, adalah kado istimewa dari atasannya. Pak Karso menerimanya tiga hari sebelum atasnya mati mengenaskan di kamar mandi.

“Karso ? Jaga dasi ini dari apapun dan siapapun !” Atasannya berpesan.
“Untuk apa dasi ini, pak ?”
“Simpan saja dasi ini baik-baik, ya ?
“Untuk apa dasi ini, pak ?” Pak Karso belum mendapat jawaban dari atasanya.
“Kamu akan tahu setelah dasi ini ada tanganmu !”
“Saya takut pak !”
“Tidak perlu takut, asal kamu hati-hati merawat dan menggunakannya.”
“Benar. Sumpah, Pak ! Saya tidak berani !”
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, dari dasi ini Pak Karso ?. Justru, ketika Pak Karso tidak mau menerima dasi ini. Pasti ada apa-apa ?” Atasannya sedikit mengancam.
“Saya tidak tahu harus bagaimana, pak !” Pak Karso tambah bingung.
“Tidak harus bagaimana-bagaimana, terima saja, dasi ini sebagai hadiah dari saya. Terimalah ?” Atasannya memberikan lipatan Koran bekas, kepada Pak Karso.

Dengan sangat hati-hati, Pak Karso menyimpan lipatan Koran, berisi dasi, didalam lemari pakaian. Persis dibawah tumpukan pakaian kerjanya. Selama itu, Pak Karso tidak pernah menyentuhnya. Sampai ajal atasanya terenggut di kamar mandi, pada saat jam kantor bubar.

Setelah upacara penguburan jenazah atasannya. Pak Karso bergegas pulang, dan menengok, apa benar, lipatan kertas Koran berisi dasi dari atasannya di dalam lemari pakaian kerjanya, masih ada. Perlahan-lahan, ia membongkar satu demi satu pakaian kerjanya. Pakaian di dalam lemari, dikeluarkan, satu demi satu. Sudah semua pakaian. Seisi lemari, dijamahi satu per satu. Dia, mengulangi, memilah-milah, menyusunnya kembali. Ia membongkar lagi, lagi, dan lagi. Pak Karso baru sadar ketika seluruh isi lemarinya, berantakan tidak tersusun lagi. Lipatan koran, dari atasannya, tidak ditemukan. Dasi itu hilang di lemari pakaian. Ia panik dan menggigil ketakutan.

“Inaaaa…. ! Inaaaa !” Pak Karso memanggil anaknya pertamanya. Dialah satu-satunya yang setiap hari, berada dirumah. Istrinya, bekerja sebagai guru madratsah negeri dibelakang kantor kecamatan. Istrinya baru sampai rumah, menjelang magrib. Anak keduanya masih di bangku SMK Otomotif.

“Jokoooo … ! kooooo !” Pak Karso memanggil anaknya yang kedua, dan juga tak ada jawaban. Ia sangat kalut dan takut luar biasa.

Mungkin gara-gara dasi itu raib dari lemari pakaiannya, maka atasannya mati mengenaskan. Pikirannya semakin tidak terkendali. Aku telah membunuhnya !. Aku mengkhianati pesannya !. Dasi itu menghilang. Lantas, atasannya mati dikamar mandi. “Aku yang salah ! Ya. Aku pasti salah !” Pak Karso terbelenggu rasa bersalah.

Pak Karso, hanya mondar-mandir di depan rumah. Ia menanyakan keberadaan anak-anak dan istrinya, kepada tetangga depan dan tetangga belakang. Perasaannya makin bingung, gelisah. para tetangganya tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Pikirannya berkali-kali dihujam kekuatiran yang dalam, jangan-jangan keselamatan Istri dan anak-anakku terancam !.

Para tetangga yang dimintai jawaban atas keberadaan anak-anak dan istri Pak Karso pun, menjadi terheran-heran. Sikap dan Perilakunya tidak seperti biasanya. Para tetangganya yang perduli dengan tingkah Pak Karso, kemudian menegur pak Karso agar biasa-biasa saja. Tokh, kemaren-kemaren, jam-jam seperti ini, anak-anak dan istrinya, memang belum ada di rumah.

“Tadi, Ina, pamit sama saya, katanya mau melamar kerja di pabrik sepatu ?” Tetangga kirinya mencoba menentramkan hati Pak Karso, yang sedang diteror cemas dan ketakutan itu.
“Iya. Istrimu dan Joko juga, tadi pagi berangkat sama-sama. Naik Angkot ?” Kata tetangga kanan rumahnya, sambil mengangkat pakaian yang sudah kering di tali jemurannya.

Pak Karso, hanya mondar-mandir saja di depan rumahnya, tanpa sepatah kata. Ia terus saja komat-kamit sendiri. Perasaannya tidak lagi bisa dikendalikan.

“Tiddaaaaaak ! Tidak mungkin terjadi !” Pak karso berteriak sangat keras. “Anak-anak dan istriku tidak bisa menjadi tumbaaal !”

Mendengar teriakan Pak Karso, tetangganya berlarian mengunci pintu rumahnya. “Tidaaaak ! Aku tidak membunuhnyaaaaa ! Anak istriku pasti selamaaaat !” Pak Karso terus berteriak, kesetanan. Tetangganya hanya bisa mengintip dari horden rumah, dengan perasaan bingung. Lebih dari satu jam, Pak Karso, tenggelam dalam pikiran yang sangat mengerikan. Ia tidak mampu menahan kelelahannya. Pak Karso tertidur, di kursi bamboo, depan rumahnya.

— *** —

Sebelum sampai di rumah, Istri Pak Karso sudah dihadang oleh para tetangganya dan menceritakan keanehan pada diri Pak Karso, siang tadi. Mereka bercerita banyak, tentang sikap dan perilaku Pak Karso yang kesurupan. Mendengar penuturan para tetangganya itu, Istri Pak Karso, berkali-kali mengucap Istighfar. Tidak tahan mendengar gosip tetangganya. Ia cepat-cepat meninggalkan para tetangganya itu. Sampai di depan rumahnya. Ia menemukan suaminya tergolek pulas di kursi bambu. Tanpa salam. Ia langsung ke dapur dan memasak air. Menanak nasi. Memasak tumis. Menggoreng ikan asin dan kerupuk kesukaan suaminya. Ia membuat teh manis, panas, dan meletakkannya di meja, persis di depan suaminya yang masih mendengkur.

Sedikitpun, Istri Pak Karso, tidak berniat membangunkan tidur suaminya. Ia melihat garis-garis wajah suaminya yang sangat melelahkan. Rambutnya yang sebagian memutih, sudah tidak serapi tadi pagi. Suara dengkur suaminya, terdengar sampai pintu belakang. Istrinya bertanya dalam hati, ada apa dengansuamiku, sampai selelah ini ?. Ada apa dengan, isi dua lemari pakaian, yang berantakan ? Ia termenung, memandangi suaminya, dengan penuh kasih.

Perlahan-lahan, mata suaminya, mulai membuka. Pak Karso terdiam cukup lama, lunglai, melihat senyum dibibir istrinya. Pak karso menyapanya sangat pelan, “Mama.” Tulang-belulang Pak Karso, menjadi empuk. Tangannya harus kuat menyangga, meski hanya sekedar menggeser tubuhnya, agar tegak di posisi duduknya.

“Aku sangat bersalah, hari ini Ma !” Suara Pak Karso, yang lemah, membuat Istrinya semakin bertanya-tanya.
“Apanya yang salah ?”
“Semua sudah terjadi, dan Aku yang paling berdosa, sekarang !”
“Dosa apa ?” Istrinya semakin bingung.
“Aku tidak bisa menjaga amanah dari atasanku !”
“Bapak, di berhentikan ?”
“Bukan itu !”
“Surat peringatan ?”
“juga, bukan itu !”
“Lalu, Bapak salah apa ?”
“Dasi itu. Dasi atasanku ! Dasi dibungkusan Koran itu !”
“Kenapa dengan dasi atasanmu.”
“Dasi itu telah membunuh, atasanku !”
“Dia bunuh diri !”
“Dasi itu, ada di lemari pakaianku, Ma !” Istri Pak Karso semakin bingung, mendengar kata-kata suaminya. “Benar juga, apa kata tetangga, tadi.” Kata Istrinya dalam hati.
“Apa hubungannya, dasi yang ada dilemari pakaian kita, dengan kematian atasanmu !” Kata Istrinya, kesal.
“Sangat jelas Ma ! Hubungan itu sudah jelas !”
“Apanya yang jelas, Pak !” Istrinya tambah kesal.
“Atasanku tewas di kamar mandi sore kemaren, sementara dasi, dilemari kita, hilang !” Istrinya, kemudian sedikit tersenyum dan berbisik dalam hati, “ternyata suamiku masih waras.”
“Dasi itu, tidak hilang ?”
“Dimana, dasi itu Ma !”
“Dasi merah hati itu, dipake Joko, untuk PKL di perusahaan ?”
“Apaaaaa ! Dasi itu dibawa Joko !” Pak Karso tidak bisa menahan emosi. Wajahnya merah hati. Berdiri, lalu duduk lagi, tak berdaya.
“Memangnya kenapa ?, kalau dasi itu dipake Joko ? Kita khan tidak punya dasi, sebagus yang Mama temukan lemari pakaian, lagipula Joko sangat membutuhkannya. Persyaratan ikut PKL, Pak !”
“Dasi itu, sangat berbahaya Ma !”
“Justru, dengan dasi itu, Joko kelihatan gagah, punya wibawa !” Istrinya tidak mengerti persepsi suaminya.
“Atasanku mati, kemaren sore, Ma !”
“Dasi itu yang membunuhnya ?”
“Ya !”
“Apaaaa !” Istrinya, mulai mengakui bahwa suaminya memang sudah tidak waras lagi. Dan pergi meninggalkan suaminya sendiri.
“Tunggu, Ma. Aku belum selesai bicara !” Kata-kata Pak Karso, tidak lagi didengar Istrinya.

— *** —

Istrinya, yang guru madratsah negeri, tidak mengerti isi batok kepala suaminya. Istrinya, berkali-kali mengucapkan musrik, murtad kepada Pak Karso. Sejak itu Keributan kecil maupun besar, sering muncul. Hanya persoalan yang sangat remeh saja, keributan akan berujung besar.

Pak Karso, Karyawan sebuah yayasan pendidikan. Duapuluh tahun mengabdi, tapi pangkat masih belum mau berlari, disitu-situ saja, alias stagnan. Ia bekerja sebagai administrasi ringan, yang jujurnya minta ampun. Ia disiplin dan patuh, apa perintah atasannya, tidak penah meninggalkan pekerjaan sisa. Semua tuntas … tas … tas…. Tas.

Meskipun sudah berganti-ganti atasan, Pak Karso tidak pernah berubah. Dia seperti itu-itu saja. Entah sudah berapa kali atasannya berganti, ia lupa menghitung, selama itu Pak Karso bekerja di administrasi yang sangat-sangat ringan. Gimana tidak ringan, kalau sehari-hari hanya mementung pelg mobil, pertanda pergantian jam belajar sekolah, dengan martil. Mengedarkan buku presensi guru dan murid, menyediakan minum di ruang guru, dan tidak jarang membelikan nasi bungkus untuk Guru dan kepala sekolah.

Ia tidak habis-habisnya berfikir, kenapa kepala-kepala sekolah itu mati pada saat meletakkan dasi merah hati itu di meja kerjanya. Sementara, mayat-mayat kepala sekolah itu, terbujur mengenaskan di kamar mandi. Kematian-demi kematian, tidak pernah menemukan sebab musababnya. Bahkan, sebelum polisi sempat menuntaskan kasus-kasus ini, secara jelas dan gamblang, sudah ada kepala sekolah baru yang menggantikan. Dan kematian-kematian, yang mengenaskan itupun, kembali berulang. Pak Karso selalu mencuci dan menjemur dasi merah hati, dan meletakkannya di gantungan paku, di belakang meja atasannya, setelah atasannya pulang ke rahmatullah.

“Sudah malam, Pak karso ?. Ayo, tidur ? Tuh, teman-temannya sudah pada tidur semua ?” Kata suster, setengah baya, kepada Pak Karso, yang masih memegangi dasi merah hati atasannya.
“Tidaaaaak, Saya tidak mau tidur !” bentak Pak Karso.
“Coba, dasinya dipake, supaya bisa tidur ya Pak ?” suster itu merayu. “Sini, saya pasang ?” sambung suster, seperti malam-malam sebelumnya.
“Sus, dasi ini yang menyelamatkan saya khan ? Iya khan, sus ?” Pak karso meyakinkan dirinya.
“Tentu saja Pak Karso ? Bapak akan tenang dan nyaman dengan dasi ini ?”
“Iya sus, saya senang memakai dasi ini. Saya bisa bertemu dengan Pak Herman, Pak Setyo, Pak Marhadi, Pak Kusnadi, ya, banyak-banyak lagi, sus ?”
“Iya, itu pasti, pak ? jawab suster itu, sambil memasangkan dasi di leher Pak Karso.

Setiap malam, sebelum Pak Karso tidur, suster rumah sakit jiwa itu selalu, memasangkan dasi merah hati di leher Pak Karso. Dia, sekarang, tidur lelap bersama kawan-kawannya.

Bekasi, 11 Februari 2009.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: