Oleh: infoeduspirit | Februari 17, 2009

INDAHNYA DITAGIH HUTANG

Mudah-mudahan, saya masih dianggap waras mengurai judul diatas. Bagaimanapun dan siapapun orangnya, kalau ditagih, karena nunggak bayar atau belajar mangkir kecil-kecilan, tiba-tiba menjadi sulit menguatkan otot keberanian. Mungkin hanya orang-orang yang kepepet, lalu takut jeroannya ketahuan aja, yang mendadak berani menghadapi penagih hutang. Itupun dengan argumen yang sarat kepentingan agar si penagih hurang tadi, masih percaya atau masih menghargai dirinya. Bahkan, ada sebagian orang, menangis-nangis, menumpahkan seluruh air matanya, memohon agar hutang-hutangnya ditangguhkan pembayarannya. Terus terang, kebenaran yang selalu saya pegang seumur hidup, berhutang bukan fitrah kita. Maunya saya, kebutuhan terpenuhi tanpa berhutang.

Orang bilang, terjadinya hutang, baik uang, barang atau jasa, karena kita tidak bisa lagi mengendalikan ego alias nafsu indrawi, yang terus-menerus harus dipenuhi. Kemudian, dari hutang itu kita berharap, agar gengsi dan status kita meningkat, melampaui garis kemiskinan. Apapun alasannya, hakekat berhutang, adalah dipepet kebutuhan. Apakah mau beli tape recorder, mesin cuci, atau Ha Pe terbaru. Yang jelas, kita dipepet dan kepepet, meminjam judul campur sarinya Didi Kempot.

Pertanyaan konyol yang bisa dipaksa muncul, dari perkara hutang-piutang ini adalah, beranikah kita dengan senyum tulus, mengatakan, ini hari, belum ada uang untuk membayar hutang. “Insya Allah kalau ada duitnya saya bayar seluruhnya atau mencicil ?” Biasanya setelah, kalimat ini berakhir, si penagih hutang naik pitam alias marah besaaaar. Takut ? wajar aja, gituuuu lhoooo, manusiawi namanya. Nah, tulisan ini mudah-mudahan bisa mengatasi rasa takut kita semua, tapi jangan-jangan akan menambah rasa takut saya dan kita semua, amit-amiiiit, mudah-mudahan jangaaan.

Seperti yang sudah saya tulis diatas, berhutang bukan fitrah kita. Tapi, memberi hutang atau pinjaman, buat orang yang mebutuhkan, adalah kewajiban bagi orang yang berpunya (the have). Kalau didunia isinya orang-orang seperti ini, mungkin gak ada lagi profesi debt collector yang marah-marah di rumah orang atau di kantor si penghutang. Bilamana dunia ini diisi oleh orang-orang yang saling menolong, membantu dan saling mengasihi, bukan dunia namanya, tapi surga yang ada di dunia. Kalau sudah begitu, maka setan dan iblis terpaksa pension dini, besar-besaran.

Persoalan tagih-menagih hutang, muncul sebagai akibat, dari suatu sebab yang mendahuluinya. Anehnya, ketika kita kepepet kebutuhan lalu berhutang, orang atau lembaga yang memberi pinjaman, juga memiliki kebutuhan yang mirip. Sama-sama punya kepentingan. Sama-sama pengen punya untung, baik secara financial maupun bukan. Bedanya, kalo si peminjam nggak punya duit, sementara yang meminjamkan punya duit. Itu aja, nggak lebih, nggak kurang.

Nah, kenapa kemudian keduabelah pihak terjebak diatas ring tinju kelas amatir, adu otot leher, ketika angsuran atau pengembalian tidak sesuai skedul yang disepakati ? Jawaban sementara mengatakan, bahwa keduabelah pihak berada dalam kondisi, kepepet dan dipepet kebutuhan. Si peminjam kepepet nggak punya duit untuk bayar hutang, duitnya langka. Sementara si pemberi pinjaman, kepepet aturan, kepepet prestasi kerja lembaga, kepepet harga diri, kepepet hutang juga, yakni uang boleh pinjam, di pinjamkan lagi ke orang lain. Saya jadi su’udzon dengan keberadaan bank-bank, sekarang ! Bukan karena saya banyak hutang dari KTA bank-bank itu. Tapi, lebih dari pada, peran yang dimainkannya, baik kepada nasabah maupun debeturnya.

Coba dech, perhatikan bagaimana bank-bank itu beroperasi. Mereka (bank-bank itu) mengumpulkan dana masyarakat melalui tabungan, deposito dan entah apalagi saya kurang paham. Trus, dana masyarakat itu dijadikan modal bank, nama kerennya Modal Pihak Ketiga. Bank-bank itu, lalu melempar kembali dana pihak ketiga ke masyarakat, dalam bentuk berbagai macam nama pinjaman, ada pinjaman tanpa agunan, ada kartu buat belanja secara kredit, ada pinjaman murabahah, pinjaman musyarakah, “dan banyak lagi yang lainnyaaaaa.” Lagunya Oma Irama tentang Indonesia.

Yang lebih saya nggak ngerti, harga pinjaman (baca bunga atau bagi hasil, terserah aja) dari penabung, deposan, de el el, jauh lebih rendah dari pada harga pinjaman itu sendiri. Udah gitu, kalo si peminjam nunggak bayar angsuran, jelas nggak punya duit, si peminjam selain bayar denda, juga ditekan habis-habisan, sampai seluruh tulangnya lunak. Meminjam produk ayam bakar, tulang lunak.

Dari argumen, yang tidak waras ini, saya jadi ragu, dimana peran bank-bank itu dalam menolong usaha ekonomi masyarakat ? apalagi kalau dihubungkan dengan pelayanan dan perlindungan ?. Makin jauh aja lah yaaawww.

Dalam kamus spiritual saya, nyang mana daripada ‘usaha’, nggak lebih dari suatu pengorbanan untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Bukan mencari keuntungan. Sedikit aja, fikiran kita menjelajah keuntungan finansial, maka kebangkrutan sudah siap menerjang kita. Nggak pandang bulu. Bulu kucing apa bulu macan, sama saja, yang penting bulu. ’Berusaha’ atau istilah sekolahannya, wirausaha, adalah menjawab bagaimana kebutuhan orang lain bisa terpenuhi, baik dalam bentuk barang atau jasa. Sekali lagi, bukan nyari untung, booo ?. Kalau produk yang dijual laku, berarti kebutuhan orang terpenuhi dengan baik, dan sudah pasti juga keuntungan bakal mengalir, gituuu lhooo ?.

Saya tambahkan lagi, bahwa nggak ada hubungan korelasional antara berwirausaha dengan rezeki. Lagi-lagi masih banyak diantara kita punya keyakinan, “kalau mau dapat rezeki, usaha donk, usahaaaa!.” Padahal, nyang mana dari pada ‘rezeki’, datangnya hanya dari Allah Swt, sementara usaha yang kita lakukan, adalah manefestasi dari status kita yang dilekatkan Allah Swt, kepada kita, sebagai rahmatan lil ‘alamien. Lho, gimana dong posisi dan peran ikhtiar ? Menurut para pakar motivator, ikhtiar itu wajib hukumnya, dan hanya ditujukan kepada kebaikan. “Ingat, berlomba-lombalah dalam kebaikan,” kata pak ustadz. Jadi, usaha atau berwirausaha, tujuannya untuk mencapai kebaikan dunia, mudah-mudahan di akherat juga. Penuhi kebutuhan orang lain, mudahkan kepentingan orang lain, kemudian, perhatikan apa yang terjadi !.

Sudah saatnya kita memulai, satu langkah baru, meski hanya sejengkal. “Sebabkan, tiadanya rasa sakit !” Insya Allah dengan kita membuat segala sesuatu menjadi baik alias nggak menyakitkan diri sendiri dan orang lain, maka akibatnya kepada kehidupan kita, adalah kebaikan, kegembiraan, ketenangan dan kedamaian.

Tantangannya, bilamana kita sudah menjalankan sesuatu yang baik, sementara orang lain tidak bisa berbuat baik dengan kita, itu berarti kebaikan kita sudah mempunyai nilai PLUS di sisi Allah Swt. Kalau kita tetap sabar dan istiqomah, kata Mario Teguh, “Perhatikan apa yang terjadi !” Stay with golden ways.

Selanjutnya, coba kita bercermin kepada orang-orang sufi, jika dia dihina, direndahkan, diremehkan, bahkan dihujat sekalipun, derajad-nya di sisi Allah Swt, meningkat satu tingkat. Sementara, ketika dia dipuji-puji, dan dia menerimanya sebagai penghargaan atau pujian, maka derajatnya turun satu tingkat. Oleh karena itu, banyak orang-orang yang jiwa spiritualnya tinggi, lebih suka di rendahkan dan dihina, dari pada dipuji-puji orang lain. Mereka ini meyakini, lebih baik dipuji oleh Allah Swt., daripada dipuji oleh manusia.

Kembali kepada persoalan diatas, bahwa hutang piutang berada pada koridor fikiran, semakin kita menggunakan fikiran untuk mengatasi-nya, maka semakin berkembang-biak masalahnya. Fikiran seakan-akan mampu mengatasinya, dengan munculnya alternative-alternatif, yang dianggap sebagai solusi. Tapi, anehnya malah tersesat, njlentreh, kemana-mana.

Sebagai saran saja, boleh dijalankan atau dilupakan, untuk masalah hutang-piutang, kembalikan kepada spiritualitas, khususon jiwa kita. Kepada Allah Swt. Nggak mungkin dech, gaji kita yang pas-pasan itu, bisa nutupin utang-utang kita yang jumlahnya setinggi langit (biar kelihatan gede banget). Besar pasak dari pada tiang. Cepek deeech ? Dengan berserah diri, kita mengangap diri kita bukan siapa siapa, tidak berdaya, merasa terdesak dan mohon agar Allah Swt, menyelesaikan utang-utang kita. Syukuri apa saja, yang saat ini, masih kita miliki. Lalu, bertawaqallah. Yakini sebisa-bisanya, bahwa ketika kita bertawaqal, maka hutang-hutang itu sudah bukan lagi tanggungjawab kita, tapi kehendak Allah Swt. Menyelesaikannya, untuk kita.

Akhirnya, pada saat, para penagih hutang itu datang lagi, ke rumah atau ke kantor kita, ucapakan salam dan katakan dengan perasaan merdeka, “Mohon maaf Bapak/Ibu, hari ini Allah belum menurunkan rezeki buat saya, Insya Allah bila rezeki itu sudah ada, dalam bentuk uang, saya akan melunasinya atau mengangsur ?” Kedengarannya begitu indah. Ya, memang indah bila keluar dari jiwa kita yang dalam, rendah hati, tanpa kepentingan dan penuh kasih. Akui semua kelemahan kita, jangan lagi takut, Allah ada dalam diri kita. Pada jiwa-jiwa, yang berserah diri, pada-Nya.

Bekasi, 12 Februari 2009.


Responses

  1. aduh pas bener artikel ini…..yah memang kuncinya memang berserah diri sama Alloh swt aja, tapi tentunya kita ada usahanya dulu ( biarin dikit juga kali yah usahanya…..), artikel ini saya baca pas sy habis dimarahin pihak bank karena sy tidak mampu membayar cicilan…( tentunya mereka sambil mengucapkan kata kata kotor dan ancaman dooong ….), tp alhamdulillah Alloh memberi saya ketenangan menghadapinya karena sy ikhlaskan saja mereka berucap kata kata kotor dan mengancam, pokoknya kita jgn berniat tidak membayarnya tetapkan saja dlm hati biar Alloh swt yg mengaturnya….(ingat mereka kan manusia juga lho tidak lebih…)nah kalau udah begini…insya alloh bisa terselesaikan deh seperti yg sudah sudah sy alami sebelumnya…semua bisa selesai kok..tenang ada Alloh swt yg lebih berhak…alhamdulillah hati ini sejuk sejuk saja…satu kata ikhlas….buktiin aja Bro!! Alloh swt itu dekat kok…Alloooohuakbar!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: