Oleh: infoeduspirit | Februari 17, 2009

MELARIKAN DIRI DARI PERUBAHAN

Author. Purwalodra

BERUBAH adalah kata yang sangat mengerikan bagi kita, yang mencintai kemapanan. Mapan hartanya, mapan jabatannya, mapan dengan satu-satunya istri, yang memarah-inya setiap hari. Mapan bersama anak-anaknya yang penurut, tak berani menuntut. Ma-pan dengan tetangga-tetangganya yang tamatan, Gossip University. Mapan berhubungan dengan teman-temannya yang culas, lagi serakah. Mapan bersama atasannya yang maha penindas.

Orang-orang seperti kita, yang menggandrungi kemapanan, akan berusaha sekuat pikiran dan tenaga, agar tidak ada perubahan yang terjadi, dan mesti dijalani. Persepsi kita yang ganas, selalu meneriakkan, “jangan-jangan haluan hidup kita, membawanya masuk ke dalam jurang penderitaan.” Sementara, kita sadar sesadar-sadarnya bahwa hidup kita, sekarang, lebih tragis dari kecoa kamar mandi.

Cerita-cerita mistis, seputar perubahan, akan membuat orang-orang seperti kita, yang gandrung kemapanan, menutup mata hati, hanya sebatas biji mata kepala kita saja. Se-benarnya, kita masih mengintip dibalik jemari, kalau-kalau perubahan itu menyenang-kan, meskipun menyeramkan.

Paradigmanya, jika di dunia ini tidak ada perubahan, kita semua bisa jalan lurus, nggak belok-belok, tidak naik, tidak juga turun. Semua datar dan menyenangkan. Bumi datar, Pakmi juga ? Yang senang dengan jabatannya, akan selamanya jadi pejabat. Yang senang mengemis, akan selamanya menyukai profesinya. Yang senang menipu, akan memelihara budaya menipu. Yang senang menindas, merawat kekuasaannya sampai kinclong.

Namun, sejak tahun 2008 lalu, dunia dikabarkan mengalami krisis ekonomi global. Mimpi buruk krisis ekonomi dan mulplier effect yang tercipta, kembali menakut-nakuti pikiran kita, yang katanya, terlanjur mencintai kemampanan sebagai teman sehidup semati. Bagi kita, belum pulih benar capeknya, dari krisis 1997, kini krisis ekonomi global, kem-bali menantang. Padahal sampai sekarang, kita masih menjaga sikap kemapanan, meskipun penguasa silih berganti, kerusuhan dimana-mana, kita masih tetap eksis den-gan kemapanan kita, bukan ? Tetap miskin, tetap bayar sekolah, tetap mahal biaya rumah sakit, tetap dapat BLT, tetap dibohongi, tetap tertindas, tetap susaaaah !

Bagi kita, yang mengibarkan bendera tinggi-tinggi kemapanan, harus sering mene-guhkan komitment, meski kita makin merasa jengah terhadap kondisi perekonomian dalam negeri. Tiak apalah, hanya sementara, kalau negara-negara tujuan ekspor mengu-rangi permintaannya, akibat konsumsi dalam negerinya kering. Tak apalah, mungkin sementara aja, perusahaan-perusahaan harus merugi, karena omzetnya jungkir balik. Demi menjaga kemapanan, maka minimalkan kerugian perusahaan, kita harus memang-kas jumlah karyawan, dengan cara pemutusan hubungan kerja (PHK), dan bertindak efisien, efisien dan efisien. Kalau sempat, sirami ego-ego kita, agar tumbuh daun dan buah kemapanan yang baru, lakukan investasi, dananya ambil dari anggaran kese-jahteraan karyawan, jangan pinjam dana bank. Targetkan aja, bahwa PHK sepanjang tahun 2009 ini, 2.5 juta orang. Tokh, mereka juga akan mapan nantinya. Mapan penderi-taannya.

Lupakan krisis, sebentar lagi pemilu, bagi kita-kita orang yang sudah hampir lima tahun menikmati kursi wakil rakyat, pertahankan. Jangan sampai orang-orang baru, partai baru, yang kemampuannya masih diragukan, merebut kursi-kursi kita. Kita bisa gunakan anggaran pemerintah, yang nota bene untuk rakyat, kita bagi-bagi secara cuma-cuma kepada rakyat atas nama kita, partai kita, kelompok arisan kita, group kita. Jadikan pro-gram pemerintah menjadi keberhasilan kita dan partai kita. Pahamkan kepada rakyat, bahwa kita juga memelihara kemapanan mereka.

Janji-janji politik, dalam rangka menyemangi perekonomian rakyat, kita harus bisa menggalakkan program Usaha Mandiri Rakyat dari dana pemerintah, yang selama ini se-dang berjalan. Jadi, dalam menangani krisis ekonomi ini kita tidak perlu lagi memberi “umpan”, melainkan “kail”. Tokh, ikan-ikannya sudah kita kendalikan agar tidak bernafsu memakan umpannya. Dengan kata lain, kita dapat mendidik rakyat untuk tetap memeli-hara kreativitasnya, bagi mereka yang kreatif, dengan melakukan suatu usaha. Dengan demikian, kita semua bisa menjaga kemapanan ini, bersama-sama.

Bekasi, 6 Februari 2009. Jum’at Kliwon, jam 01.30 WIB


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: