Oleh: infoeduspirit | Februari 17, 2009

MEMETIK PENGALAMAN

“Ek, cepat cari jalan !. Kata teman-teman, ada Polsus Tebu di dekat sekolah !”
“Aku nggak lihat ada polsus tadi ?” Aku memasukkan beberapa ekor jangkrik ke dalam plastik bening.
“Buktinya Dion nggak berani masuk kebun tebu !”
“Dia memang takut ular !”
“Memangnya kamu berani sama ular ?”
“Bukannya nggak berani !. Aku malu aja ?”
“Ek, jangan bercanda !” Nanto mulai kuatir.
“Aku malu sama ular, karena dia siang malam dikebun tebu, sendiriiii aja, nggak takut. Masak kita siang-sing begini takut ?”
“Jangan bercanda dech !”
“Siapa yang bercanda ?” Aku terus menangkap jangkrik-jangkrik di sela-sela batang tebu yang hampir rembang, dipanen. Batang-batang tebu ini besar-besar berwarna merah kehitaman. Tingginya dua kali orang dewasa. Bahkan bisa tiga kali jika dipucuk tebu ada glagah, kembang tebu.

“Ek, buruan keluar didekat sekolah ada polsus !” Hasan berlari keluar bersama tiga teman-teman lainnya.
“Tuh, khan ! Ayo kita keluar cepaaaat !” Nanto semakin kuatir. Aku tetap saja tak bergeming dengan jangkrik-jangkrik besar yang menawan.
“Baru dapet tujuh, To ?” Nanto tidak mendengar apa yang kukatakan.
“Sudaaah, sudah banyak !”
“Belum !”

Tidak begitu lama, Hasan dan teman-temannya yang semula berniat keluar dari kebun tebu, kembali masuk ke dalam.

“San, Hasan ! Kenapa balik lagi kedalam !” Nanto menegur Hasan dan teman-temannya yang sudah bertambah empat orang, nafas mereka naik turun.
“Kita nggak berani keluar ! polsus ada di dekat sekolahan !”
“Trus, kamu mau ke mana !” Nanto bertanya.
“Kita mau lewat jalan raya saja !” Hasan dan teman-temannya terus berjalan sangat cepat kearah selatan. Sementara aku asik membongkar semak-semak tebu.
“Huuuuh !” Nanto kesal bukan main.
“Kenapa kamu nggak keluar sama Hasan, saJa !”
“Kita khan tadi masuknya bareng. Masa aku keluar sama Hasan !”
“Kamu memang ajudan yang baik ? He … he … he ?. Ini pegang jangkriknya !” Nanto menerima plastik berisi jangkrik-jankrik yang sudah lebih dari sepuluh.

“Ayooo eeeek, buruuuaaan. Polsus itu pasti menangkap kitaaaa !” Nanto kesal.
“Ya. Iya, keluar lewat mana kita !” Aku memenuhi permintaan Nanto yang sudah tidak sabaran.
“To. Kalo kita keluar lewat utara, kita ketemu kali. Sebelah selatan ketemu jalan raya, pasti disana banyak orang. Polsus-polsus itu ada disitu !” Aku mulai berstrategi.
“Buktinya, Hasan nggak balik lagi ke dalam, mereka lewat selatan tadi. Berarti mereka sudah bisa keluar dengan selamat ?”
“Mungkin saja Hasan dan kawan-kawan sudah ditangkap polsus ?”
“Jadi, gimanaaaa, eeeeek !” Ketakunan Nanto berkembang biak.
“Nggak ada jalan lain. Kita ke barat saja, langsung ke sekolah !”
“Ngawuuur kamu ek ! Sudah jelas ada polsus di sekolah, kok malah lewat situ !
“Jadi, gimanaaaa, Tooooo ? “ Aku bercanda beneran.
“Ya, Ada jalan ?. Kita kesana ?” Nanto menunjuk ke arah timur.
“Memangnya kita mau pulang ?”
“Habis, gimana lagi !. Kalo ke Barat, kita pasti ditangkap Polsus Tebu. Aku nggak mau dijemur dilapangan sekolah, gara-gara mencuri tebu !” Nanto kuatir lagi.
“Eh… To, memangnya kita mencuri tebu ?”
“Biarpun kita nggak nyuri tebu, kita sekarang ada di kebun tebu !”
“Memangnya jangkrik-jangkrik ini nggak cukup bukti. Kita tidak mencuri tebu ?” Aku berargumen.
“Sekarang. Gimana caranya kita bisa keluar dari kebun tebu ini. Titik !” Nanto makin takut aja.
“Ya. Kita balik aja ke sekolah ?” jawabku enteng.
“Kalo kita ketangkap Polsus Tebu, gimana ?”
“Biar saja, kita nggak nyuri tebu kok ?”
“Biar nggak nyuri, kita pasti dituduh mencuri, tau !”
“Kalo kita dituduh mencuri tebu, memangnya kenapa ?”
“Kita ditangkap. Diserahin ke polisi. Trus di penjara. Mau ?”
“Nggak ah, aku nggak mau dipenjara.”
“Nah !, kalo begitu, kita jangan sampai ketangkap Polsus ?”
“Ya. Kita jalan pelan-pelan aja ke Barat, semoga Polsusnya nggak lihat kita ?”
“Itu sih, Ulo marani pentung. Bunuh diri namannya !” Nanto tambah cemas.
“Iya. Trus gimana ? Apa jangkrik-jangkrik ini kita lepas aja disini ?”
“Aduh ! kok tolol amat sih kamu !. Jangkrik-jangkrik ini khan sebagai bukti kalo kita dtangkap polsus !” Kata Nanto tambah kesel. Sebenarnya yang tolol dia apa aku ?
“Ya. Begini saja. Biar aja kita ditangkap polsus itu, kita khan bawa jangkrik-jangkrik ini sebagai bukti ?”
“Aduh, kenapa sih kamu dari dulu nggak pernah merasa berdosa ?”
“Kenapa harus merasa berdosa ? Harusnya kita merasa punya pahala ?” Aku menerangkan sekenanya.
“To, kata om ku, kalo kita merasa punya pahala kita nggak dihantui dosa. Kalo merasa berdosa, pasti dalam pikirannya cuma bagaimana ngilangin dosa, dosa, dosa !” Nanto makin nggak ngerti. “akhirnya, tau nggak To. Orang seperti kamu yang takut ama dosa, malah nambahin tabungan dosa.”
“Ek, kamu bukan ustadz. Kita pencuri tebu disini sekarang.” Nanto terus mempertegas statusnya.
“Bukan ! Aku pencari jangkrik disini, sekarang ?”
“Pokoknya, aku sekarang mau kearah timur aja !” Nanto mempertegas tekadnya.
“Ingat, ya To. Waktu istirahat kita cuma tinggal 15 menit lagi ?”
“Biar saja. Dari pada ketangkap Polsus !”
“Ya. Sudah. Aku mau keluar lewat sini aja. Lebih dekat. Lebih aman ?”
“Ek. Tunggu. Kamu nggak takut ditangkap polsus ?
“Ya. Takut juga. Tapi gimana lagi ? Sebentar lagi pasti bel berbunyi ?”

Kemudian aku berjalan cepat-cepat, keluar dari kebun tebu yang luas. Sementara Nanto mengurungkan niatnya keluar dari arah timur dan mengikutiku dari belakang. Semakin cepat aku melangkah, Nanto semakin tertinggal jauh. Beberapa meter sebelum keluar dari kebun tebu, aku lari sekencang-kencangnya dan berteriak, “Ada polsuuusss, ada polsuuuusss, ada polsuuuusss !” Nanto yang kaget bukan kepalang, berusaha mengejarku sekuat tenaganya. “Kroooaassaaaaaakkk, byyyuuuuurr !” Nanto terjerembab, masuk ke dalam selokan air.

— *** —

Bel jam terakhir sekolah, baru saja dimulai. Teman-teman yang baru datang dari ruang Guru memberitahukan bahwa pelajaran Bu Mulyani kosong. Untuk mengisi waktu, kita disuruh mencatat buku paket di papan tulis. Seperti biasa, murid terpandai di kelasku bertugas mencatat di papan tulis. Sementara teman-teman yang lain ngobrol sendiri-sendiri.

Bu Mulyani adalah Guru fisika. Beliau sangat baik dan tlaten memahamkan teori-teori fisika kepada murid-muridnya. Jarang marah tapi tegas. Setiap murid yang tidak mengerjakan Pe-eP. Hukumannya berdiri di depan kelas, sambil mengerjakan tugas. Perilakunya santun dan mengerikan. Bu Mulyani paling disegani di kelasku.

Bulan kemaren adalah hari sialku dengan Bu Mulyani. Setiap Rabu, pelajaran Fisika ada di jam pertama dan kedua. Bu Mulyani tidak pernah tidak memberikan Pe-eR. Hari itu aku sama sekali belum menyelesaikan Pe-eR, lantaran pada Selasa malam, Putut dan Nanto tidak datang ke rumah, Mengerjakan Pe-eR bersama. Dan aku sempat ribut malam itu dengan mereka berdua, gara-gara mereka merebut perhatian perempuan yang selama ini kusenangi. Ngobrol sampai jam 09.00 malam dengan Ani dan Yayuk di ‘buk’ jembatan kecil di samping Masjid. Sementara, aku menunggu mereka sampai garing, di pendopo rumah.

Biasanya, alternatif terakhir, ada ditangan Iswatun. Anak yang dianggap paling pinter di seluruh kelas. Iswatun sendiri tidak keberatan kalo aku yang ‘nurun‘ mencontek Pe-eR nya. Bagi Iswatun, PR hanya melatih kita rajin belajar, itu saja. “Tohk, belum tentu benar jawabannya.” kata Iswatun, tanpa beban. Tapi, seingatku, Pe-eR yang dia kerjakan seratus persen selalu benar.

Tapi, entah kenapa, sampai bel berbunyi, Iswatun belum juga ada di kelas. Perasaan cemas sudah mengaduk-aduk fikiranku, meskipun Bu Mulyani belum masuk kelas. Nggak lama, Siti Badriah duduk persis didepanku.

“Ti, Pe-Er Bu Mulyani sudah selesai belum ?” Aku menyapa dengan lembut.
“Sudah.” Jawabnya ringan.
“Aku belum, Sit ?. Semalam ada peringatan Maulid Nabi di masjid ?” aku berbohong.
“Ya. Ini.” Siti memberikan buku PR nya, dengan sangat dingin.
“Terimakasih, ya, Ti ?. Kamu memang teman yang baik ?” Aku memujinya.
“Eh … Iya Ti, Iswatun kemana ya ? Kok belum datang juga !”
“Tadi dia titip surat. Nggak bisa sekolah. Sakit !”
“Sakit apa ?
“Nggak tahu !”
“Sekarang suratnya mana ?”
“Tuh, ada di meja Guru !”

Belum sempat aku mencatat buku Pe-Er Siti badriah, Bu Mulyani sudah berdiri di depan kelas dan memimpin do’a bersama.

“Anak-anak, keluarkan PR nya di atas meja kalian !” Mendengar perintah Bu Mulyani, dadaku meletus, sekali.
“Ayo, Eko maju ke depan, kerjakan Pe-Er nomor satu !”
“Mati aku !” Dadaku meletus tiga kali. “Ti, aku pinjam dulu ya bukumu !” aku berbisik gemetar.
“Jangaaan eeek ! Nanti ketahuuuaaan !” Siti cemas luar biasa.
“Sebentaaaaar aja. Tolloooong, sebenntaaar aja ?” Aku memohon belas kasihan Siti.
“Tapi jangan sampai ketahuan. Ya !” bisiknya sangaaaat lirih.
“Iya. Iya. Beres Ti ?” aku menenangkannya.

“Ayo cepat. Eko !
“Ya. Baik bu !” Aku bergegas ke papan tulis.

Sementara, aku menulis Pe-eR nomor satu, Bu Mulyani keliling dari bangku ke bangku. Memeriksa Pe-eR teman-teman. Belum selesai aku mencatat Pe-Er di papan tulis. Bu Mulyani teriak nyaring sekali.
“Ekkoooo …. Jangan dilanjutkan !” Dadaku meletus berkali-kali. “Berikan buku itu pada Siti. Biar Siti yang melanjutkan !”
“Baik Bu ?” Aku berusaha menguasai dadaku yang sudah mengeluarkan lahar dingin. Siti maju kedepan, melanjutkan apa yang telah kutulis di papan tulis.
“Sekarang, ambil bukumu dan catat !”
“Berdiri Bu ?”
“Ya. Berdiri ! Dibawah tiang bendera, sana !”
“Di bawah tiang bendera ?” Aku nggak yakin, Bu Mulyani sekejam ini.
“Ya. Masa Ibu bohong. Bawa buku Pe-Er mu dan catat apa yang kamu lihat di sekitar tiang bendera. Disana !. Ayo cepaaaat !” Teman-teman sekelas terbahak-bahak. Mendengar gemuruh letusan dalam dadaku.

Bekasi, 5 Januari 2009.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: