Oleh: infoeduspirit | Februari 17, 2009

MENDADAK KREATIF

Dalam forum rapat kepala-kepala sekolah, di sebuah Yayasan, muncul pertanyaan tentang yang mana daripada ‘Kreativitas’. Sang Kepala Sekolah bingung kepada hasil penilaian Karyawan kebersihan. Dibuku penilaian karyawan, nilainya bagus-bagus, tapi kok, WC nya masih ‘semerbak harum’ (baca kebalikannya), debu masih terlihat kasat mata, rumah ‘onggo-onggo’ masih menghiasi ruang kelas, lantai kusam, de el el. Menurutnya, tidak ada indikator kreatifitas dalam form penilaian karyawan. Apa iya sih ?

Tulisan ini tidak membahas tentang evaluasi prestasi, atau orang HRD menyebutnya appraishal. Bahkan juga, tidak membahas teknik, mekanisme, metode, variabel n indikator appraishal. Sama sekali bukan itu. Yang menggelitik pikiran saya, Cuma kata ‘kreativitas’, itu aja.

Pertanyaan yang saya lahirkan (emang kapan hamilnya) adalah bagaimana seseorang bisa begitu kreatif sementara yang lainnya tidak. Apakah kreativitas dapat dipelajari? Jika ya, bagaimana menumbuhkan kreativitas di tempat kerja ?

Menurut para ahli, seseorang yang kreatif selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna, dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan. Menurut teman saya, orang seperti ini bahaya !. Sekali lagi, saya tidak membahas bahayanya orang-orang seperti ini.

Menurut para pakar HRD, Secara umum tahapan kreativitas dapat dibagi dalam empat tahap: Exploring, Inventing, Choosing dan Implementing.

Exploring. Pada tahap ini pekerja atau karyawan, mulai mampu mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada saat ini. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai. Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif. Kalau tidak, maka orang-orang seperti ini biasa menjadi kritikus kelas kakap.

Inventing. Pada tahap ini, karyawan yang sudah menemukan identitas dirinya, akan melihat atau mereview dan mencari berbagai alat, teknik dan metode atau bahasa sederhananya ‘cara’ yang telah dimiliki, yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir dan bertidak, yang traditional. Pada tahap ini karyawan sudah mulai menjadi penganut aliran perubahan. the life is change, change in progress.

Choosing. Pada tahap ini, karyawan selain sudah mengidentifikasi dirinya dan memilih ide-ide yang paling mungkin untuk dilaksanakan, mereka juga mampu mengubah lingkungannya. Bahayanya, kalau lingkungan kerjanya tidak mendukung aliran yang dianutnya, ia bakal memiliki profesi provokator ulung.

Implementing. Tahap akhir karyawan atau pekerja dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat ide-idenya ini segera dapat diimplementasikan. Jika ide-ide ini tidak tersalurkan dengan baik, maka mereka akan menjadi kutu loncat (kenalnya waktu dikampung), alias pindah kerja dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain.

Pakar-pakar HRD itu juga menegaskan, keempat tahapan ini pasti dilalui oleh seorang kreator, atau orang-orang yang disebut kreatif. Orang-orang kreatif yang baca tulisan ini pasti manggut-manggut. Iye, iye, bener juga tuh ?

Saya lanjutkan lagi, ya ?. Menurut Charles Prather, dalam bukunya Blueprint for Innovation, gaya atau model kreativitas seseorang bersifat menetap. Prather membagi dua gaya kreativitas:

Adaptive Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja, cenderung menggunakan kreativitas untuk menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada orang yang memiliki gaya ini adalah bahwa mereka akan berusaha sekuat pikiran dan tindakannya untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat.

Innovative Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja cenderung untuk menantang dan mengubah sistem yang sudah ada. Mereka dapat disebut sebagai “agent of change” karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada menyempurnakan yang sudah ada. Dalam suatu perusahaan mereka dapat dilihat pada bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang.

Jadi, kalau saya kembalikan ke pertanyaan diatas, bagaimana seseorang bisa begitu kreatif sementara yang lainnya tidak. Apakah kreativitas dapat dipelajari? Ya, iyalah. Semua itu tergantung yang ada digantungan, alias siapa tempat bergantung karyawan tersebut. Jangan sampai, mendadak kreatif, meminjam judul lagu Mendadak Dangdut-nya Titi Kamal, tanpa memahami apa sih kreativitas itu sendiri.

Makanya, kita dianjurkan berfikir dua kali aja, untuk menjadikan pekerja atau karyawan, kreatif atau tidak kreatif. Kalau sudah siap, segerakan tindakan. Kalau belum, belajar gituuu lhoooo ? Semoga kita bisa tetap, berfikir positip. Amin.

Bekasi, 11 Februari 2009.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: