Oleh: infoeduspirit | Februari 17, 2009

MIMPI MENJADI PENULIS

Author. Purwalodra

Sebut saja, Anto, seorang yang sejak SMP sudah berkeinginan menjadi penulis. Pen-didikan formal yang lebih dari cukup memadai untuk menjadi penulis, sampai sekarang, belum juga mampu menepis ketidakpercayaan pada dirinya. Seabrek teori menulis, mulai dari esai, opini, artikel (fiksi maupun nonfiksi) bahkan menulis thesis S2, sudah mengisi batok kepalanya, bahkan pernah ia jalani. Namun, lagi-lagi masih banyak factor internal dan eksternal, yang harus ia hadapi, untuk melaju di jalan lu-rus sebagai penulis.

Kepanikannya menghadi banyaknya factor internal dan eksternal, tidak termasuk teori menulis, telah berkali-kali menghempaskannya ke dalam jurang keputus-asaan. Meskipun, sarana dan peralatan menulis, seperti computer (laptop), teknik membuat blog dan motivasi, telah dimiliki sebagai kelengkapan yang nyata. Namun, lagi-lagi factor ‘Ex’ lah yang membelenggunya sampai ia kehabisan energi kreatifitas.

Pada saat motivasi menulisnya luber, hampir setiap malam ia menulis satu tulisan, dan langsung dikirimnya via email ke redaksi media massa. Nggak tahu gimana, baru jalan dua minggu, Anto, sudah ambil cuti panjang, bahkan berniat ambil pen-siun dini menjadi penulis. Namun, lagi-lagi motivasinya terbakar, ketika seorang An-drea Hirata menerbitkan tetralogi novelnya, dan laris dibeli masyarakat. Padahal menurut cerita-cerita yang ia dengar dari seorang Andrea Hirata, bahwa satu cerpen pun belum pernah di terbitkan oleh media massa, namun ketika Novel Laskar Pe-langinya di filmkan, novel-novel berikutnya menjadi fenomena penulis di Indonesia. Sekarang, Anto, memilih menjadi penulis lagi. Dan lagi-lagi, Anto, mau tidak mau, berhadapan lagi dengan persoalan-persoalan internal dan eksternal.

Kali ini, Anto, harus mampu menulis satu hari satu tulisasan. Apapun jenis tulisannya. Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan tetap di salah satu perusahaan. Sudah tujuh tulisan lepas, tiga diantaranya cerpen, ia hasilkan. Berarti sudah tujuh hari ia menulis. Anto mengirimkan ke redaksi media massa via email.

Memasuki, minggu kedua, tantangan internal dan eksternal, sudah mulai terlihat. Dia pikir, dengan shalat hajat setiap malam, tantangan internal dan eksternalnya, hilang begitu saja. Ternyata boro-boro, nggaklah yaw !. Persoalan internalnya makin ruwet, persoalannya makin menguat. Anto, sekarang, menemukan dirinya di persimpangan jalan, mau jalan lurus melanjutkan mimpinya menjadi penulis, atau belok aja ke kanan, menjadi karyawan tetap yang sudah lama dia jalani itu.

Ketika berada di depan computer, Anto, selalu dihadapkan oleh banyak pertanyaan. Dengan jalan lurus, menjadi penulis, Anto, akan mampu mendapat penghasilan, meskipun belum ada jawaban dari redaksi manapun yang dia kirim. Dengan jalan jalan berbelok, dia akan menemukan dirinya dalam keadaan nyaman, tapi penghasi-lannya tak mampu menutup hutang-hutangnya yang mulai mendaki puncak merapi. Anto, terbelenggu sikap pragmatisme materi.

Pada saat, Anto mulai berselancar dengan tulisan-tulisannya, pikirannya memahat-nya pada jenis tulisan yang diminati media massa, sehingga ia terpaku pada jenis-jenis tulisan tertentu, seperti artikel atau tulisan yang lagi ngetren saat ini, semen-tara kondisi pikirannya nggak focus ke hal-hal yang lagi ngetren tersebut.

Suatu hari, teman Anto yang boro-boro bisa nulis, tapi mampu menggoyang jiwanya kearah pencerahan, menasehatinya agar tetap tabah dan sabar terhadap terpaan masalah internal dan eksternalnya. Menurutnya, jika tulisan itu lahir dari jiwa, maka akan mudah dibaca oleh jiwa. Maka gak perlu, pikir ini-itu, tulis aja, kelak akan lahir tulisan yang enak dibaca dan menghibur. Karena, jiwa akan bertemu jiwa, dan pikiran akan bertemu dengan pikiran. “Mana yang lebih baik ?” kataku bersemnagat. “Yang akan banyak dibaca orang adalah tulisan yang lahir dari jiwa.” Jawabnya mantap.

Mulanya, anto, nggak yakin dengan kata-kata temannya itu, bagaimana menulis dengan jiwa dan bagaimana juga menulis dengan pikiran. Justru, temannya yang nggak bisa nulis itu bilang begini, “Tulisan yang lahir dari pikiran, menumpahkan apa saja dari pikiran kita ke dalam tulisan, apa saja bentuknya, pokonya tulisan. Trus, tulisan yang lahir dari jiwa, selain kita mampu menumpahkan isi kepala kita ke dalam tulisan, kita merasakannya adanya kenikmatan dalam mengalirkannya. Ibarat sungai yang jernih, mengalir deras, tanpa hambatan. Kita menjadi enjoy, menikmati kata-kata kita yang mengalir.”

“Subhanallah, ini bukan sekedar teori.” Kata Anto dalam hati. Sejak saat itu, meski istri dan anak-anaknya menggangu dan mengeluh, karena kecintaannya terbagi, Anto tetap mampu menembus pikiran keruhnya dengan kenikmatannya tanpa batas, dengan berlimpahnya ide-ide, kapanpun dan dimanapun. Tulisan ini sebagai bukti, Anto mampu menembus pikirannya yang lama keruh.

Bekasi, 16 Februari 2009.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: