Oleh: infoeduspirit | Februari 17, 2009

NAIK KELAS

Hari ini, mbah kakung mengambilkan aku raport kenaikan kelas di sekolah. Sementara Putut dan Nanto diambilkan oleh Ibunya. Putut sudah mendudukkan Ibunya di bangku kelas I-C. Aku dan mbah kakung baru sampai sekolah jam 07.30 WIB. Mbah kakung duduk di ruang tunggu depan kantor Kepala Sekolah, lalu membaca Koran yang dibelinya sebelum masuk halaman sekolah. Sementara, aku, Putut dan Nanto asik ngobrol di depan tukang nasi gudeg. Halaman sekolah.

“Liburan nanti kamu ke Bekasi, ek ?” Nanto membuka disikusi.
“Aku sudah ke Bekasi dua kali, tahun ini. Liburan Semesteran kemaren sama lebaran.”
“Barangkali, masih kangen sama ortu di Bekasi ?” Putut menyahut.
“Nggak. Aku mau liburan disini aja.”
“Khan di Bekasi lebih rame dari pada disini, sepi !” Nanto menimpali.
“Nggak ah. Lagian mbah kakung sama mbah putri mau pergi ke Wonogiri besok senin.” Aku beralasan, “Katanya sih mau menghadiri pernikahan anaknya adik mbah kakung, sekalian ziarah ke makam saudaranya, disana.”
“Jadi kamu sendirian di rumah ?” Putut penasaran.
“Iya, selama seminggu besok. Tapi Budi dan Dodo khan selalu tidur di rumah mbah ?”
“Iya ya ? Kamu nggak pernah sendirian di rumah mbah, selalu rame !”
“Di rumah mbahku, siapa aja boleh nginep. Asal mau Bantu mbah beres-beres rumah. Kenapa sih, kamu berdua nggak pernah nginep di rumah mbahku ?”
“Nggak boleh sama ortu !” Jawab Putut.
“Kenapa ?” aku penasaran.
“Pokoknya nggak boleh aja.” Jawab Putut ringan.
“Takut hilang ?” Aku mengejek.
“Nggak juga” sahut Nanto.
“Atau takut digantung sama mbah Harjo ?”
“Apalagi itu.” Jawab Nanto tegas.
“Pokoknya nggak boleh aja.” Kata putut.
“Gini aja. Besok minggu khan mbahku nggak ada di rumah. Gimana kalo kamu berdua minta izin ke ortu nemenin aku. Bilang aja mbah Harjo yang nyuruh ?” Mereka saling berpandangan, seakan-akan gagasanku ini menarik untuk ditanggapi secara positip. Beberapa detik kemudian Putut menjawab, “Iya dech, kita lihat aja nanti.”
“Kalo begitu, aku mau ke tempat mbah dulu ya, nanti dia cari-cari aku.” Aku meninggalkan mereka dibawah pohon waru.

Sampai di ruang tunggu. Mbah kakung masih serius membaca Koran. Aku mendekat dan berdiri disampingnya. Mbahku, masih bekerja sebagai kebayan desa. Atau biasa di sebut Pak Bayan. Aku nggak tahu persis apa dan bagaimana tugas dan tanggungjawab Kebayan Desa itu. Yang kutahu, setiap jam delapan pagi mbah kakung naik sepeda, berseragam krem lengkap dengan tanda-tanda kepegawaian. Dan jam 14.00 WIB sudah minum teh pahit di rumah. Bahkan kalo hari Jum’at jam 10.00 WIB sudah ada di rumah. Pokoknya nyantailah.

Mbah kakung, selama di rumah, jarang memegang sapu. Selain ngatur masjid, Adzan, pagi-pagi mbah kakung sudah keliling kampung sambil cari bekicot untuk lima ekor bebek kesayangannya. Kadang-kadang tetangga juga mengirim bekicot ke rumah. Mbah kakung tetap saja jalan-jalan pagi, keliling kampung, meskipun persediaan bekicot sudah terpenuhi

Pagi-pagi Subuh tadi, aku sudah bangun sebelum mbah kakung Adzan Subuh. Shalat Subuh, menyapu halaman belakang, cuci piring lantas mengumpulkan nasi-nasi bekas dicampur katul dan air secukupnya, makanan lezat ayam didistribusikan dihalaman belakang. Ayam-ayam mbah kakung, tidak bisa keluar, karena tembok tinggi membatasi sekeliling halaman di belakang rumah. Rutinitas ini sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi. Jadi tidak perlu lagi membuat jadual tugas seperti dulu. Sementara, Dodo menyapu halaman depan masjid sampai ‘buk’ jembatan kecil dan pinggir jalan aspal. Budi, bertugas menyapu dalam masjid, teras dan tempat wudhu. Begitulah kesibukanku bersama Dodo dan Budi setiap pagi. Setelah semua selesai, aku mandi dan berangkat sekolah.

“Piye le, munggah ora ?” mbah kakung menyapaku, menanyakan apakah aku naik kelas atau tidak. Aku menjawab dengan mengangkat pundakku agak tinggi.
“Siapa nama wali kelasmu ?”
“Bu Sri Mulyani, mbah.”
“Sopo sing juara kelas saiki ?”
“Mungkin sama dengan semester kemaren, mbah. Iswatun Hasanah namanya.”
“Cah ngendi. Darimana dia ?”
“Katanya sih dari sebelah selatan kelurahan Plawikan ini.”

Tidak lama berselang. Tiba-tiba beberapa suara TOA di atas ruang Kepala Sekolah, kantin dan ruang tunggu memotong pembicaraanku, “Perhatian, bagi orang tua atau wali murid yang sudah hadir di sekolah mohon bisa segera masuk ruang kelas sesuai dengan kelas putra/putri Bapak Ibu. Sekian. TerImaksih.” Pengumuman itu sampai diujung halaman sekolah.

“Dimana kelasmu, le ?”
“Di sana mbah.” Aku menunjuk sambil mengantarkan mbah kakung sampai masuk kelas I-B.
“Duduk di depan aja mbah, biar cepat dipanggil.” Aku mencarikan tempat duduk untuk mbah kakung di bangku paling depan.
“Wis, tak tinggal yo mbah.”
“Yo. Jangan jauh-jauh.”
“Iya mbah, aku di depan sekolah aja.”

— *** —

Persis di depan sekolahku, berdiri gedung SD Negeri dimana Ani, Yayuk dan Dion bersekolah. Aku mondar-mandir, clingak-clinguk. Mencari keberadaan mereka bertiga. Hari ini SD-nya juga mengadakan perhelatan akbar, perpisahan kelas VI dan pengambilan Ijazah. Ani, Yayuk dan Dion berhasil lulus Ujian Nasional. Rencananya mereka bertiga melanjutkan ke SMP Negeri dimana aku sekolah. Dan sejak kemaren, SMP Negeriku sudah mulai membuka pendaftaran murid baru.

Sudah sepuluhmenit aku mencari keberadaan mereka bertiga di halaman SD Negeri, bahkan masuk melewati kelas-kelas yang sudah sesak oleh para orang tua murid. Panggung yang dihiasi dengan kertas warna-warni menyemarakkan suasana pentas seni dalam rangka perpisahan kelas VI SD.

Setelah lelah menyusuri koridor SD, akupun bergegas kembali ke menemui mbah kakung di kelasku. Sampai di depan gerbang SD, Yayuk memanggilku dari pintu sekolah sebelah utara. “Ek ! Dari mana ?”

Aku menoleh kekiri, dan melihat Yayuk bersama Ibunya memasuki gerbang sekolah sebelah utara. Aku menghampirinya, bersalaman dan mencium tangan Ibunya. Aku berbisik di dekat telinga Yayuk. “Jadi nggak mendaftar di SMP Negeri ?” Yayuk menoleh ke muka Ibunya. “Bu, nanti jadi khan ?” Ibunya mengangguk, senyum. “Yess.. !” Yayuk mengepalkan tangannya dan mendorongnya ke bawah. Aku masih bingung maksud mereka berdua.

“Ek … ada acara apa di sekolahmu ?”
“Ambil raport.”
“Ada merahnya nggak ?”
“Mbah kakung lagi ada di kelas, tunggu giliran dipanggil !”
“Semoga naik kelas ya ?”
“Terimakasih.”

Nggak lama, diatas panggung, MC memulai acara pentas seni dan mengumumkan kepada semua orang tua murid kelas VI menempati kursi yang sudah disediakan. Aku pun bergegas pamit kembali ke sekolah.

“Aku balik ke sekolah ya ?”
“Ya. Ek. ?” Jawab Yayuk. Ibunya hanya senyum aja.

Aku sedikit berlari dan masuk ke halaman SMP. Beberapa orang tua murid sudah selesai mengambil raport. Ketika aku melewati ruang pendaftaran murid baru, Dion dan Ani sedang berdiri. Ibunya Dion dan Ibunya Ani sibuk mengisi formulir pendaftaran.

“Sudah ada disini tho ?” Dion dan Ani senyum-senyum saja.
“Darimana ek ! Mbah Harjo kemana ?” tegur Dion.
“Dicari di SD malah sudah ada disini ?” sambil mengatur nafas, aku menjawab “Mbahku lagi ada di kelas, ambil raport !”
“Kita berdua sudah ambil Ijazah dua hari lalu !. Baru sekarang bisa daftar di sini.” Kata Dion, menjelaskan.
“Testnya hari Senin besok !” Kata Ani.
“Oooo …” aku nggak pernah baca mading.
“Yo, wis sana. Mbah Harjo nanti pulang duluan lho ?” dion mengusir.
“Iya. Iya !” sambil bergegas lari ke ruang kelas ku.

Aku langsung aja masuk ke kelas. Masih banyak orang tua murid menunggu giliran dipanggil. Aku duduk di bangku depan yang sudah kosong. Aku menoleh ke samping kanan, kiri dan ke belakang. “Dimana mbah kakung ?” Dadaku meletus-letus. Aku berusaha menguasai keadaan dengan senyum yang kubuat semanis-manisnya. Beberapa orang tua murid melihatku dengan senyum yang aneh. Aku memberanikan diri menanyakan keberadaan mbah kakung kepada orang tua murid yang sejak awal aku masuk ruangan, dia terus memasang senyum padaku.

“Maaf pak, mbah kakung saya dimana ya ?”
“Mbah Harjo, Pak bayan ?” orang itu menegaskan nama mbahku.
“Iya. Iya pak ?” Aku masih belum sempurna menguasai dadaku.
“Bapak kenal Pak Bayan ?” aku bertanya.
“Semua orang tua murid disini, kenal baik dengan Pak Bayan.” Aku mende-ngarnya heran. “Kamu cucunya ya ?” orangtua itu kembali bertanya.
“Iya. Iya Pak ? Saya anak pertama dari Pak Haryanto ?”
“Oooo … kamu anaknya mas Yanto, tho ?” Aku tambah heran. “Dulu, saya teman mainnya Bapakmu. Salam dari Pak Naryo buat Bapakmu ya ?
“Iya. Iya Pak ?” Aku merasa sudah mampu menguasai keadaan.
“Tapi, sekarang Bapak saya ada di Bekasi Pak ?”
“Sejak muda, Bapakmu sudah merantau. Saya sempat mau diajak ke Tanjung Pinang, ikut Bapakmu ?” Aku menyimak dengan baik.
“Sekarang Bapak ada di Bekasi ?” aku mengangguk. “Kalo Bapakmu pulang kesini, suruh Bapakmu main ke rumah Pak Naryo ya ? Siapa namamu ?”
“Iya pak. Nama saya Eko pak.”
“Anak Bapak namanya Hasan. Kamu kenal khan ?”
“Sangat kenal pak. Saya juga akrab sama Hasan.” Sekarang aku tahu dia ter-nyata Bapaknya Hasan.
“Besok liburan main ke rumah Hasan ya ?”
“Iya pak Naryo. Ngomong-ngomong Mbah Harjo sudah lama keluar Pak ?”
“Sudah lima belas menit yang lalu !. Karena beliau sesepuh di sekolah ini, Ibu wali kelas tadi memanggilnya diurutan pertama ?”
“Iya pak. Kalo begitu saya pulang saja pak ?”
“Yo wis, ngati-ati.”
“Nggih pak. Terimakasih.” Aku berdiri meninggalkan pak Naryo.

Keluar dari ruang kelas, pikiranku kembali mengamuk. Palu berkali-kali memukul kepalaku. Wajah mbah kakung, yang orang bilang angker itu, Pak Naryo dan Hasan melintas berganti-ganti di dalam batok kepalaku. Aku berjalan sangat cepat. Pikiranku tidak lagi di sekolah. Mbah kakung pasti cari-cari aku tadi. Mbah kakung pasti marah. “Tapi seingatku mbah kakung tidak pernah marah padaku !” Aku berusaha menenangkan diri. Aku berjalan mengikuti banyang-bayang wajah mbah kakung.

— *** —

Aku pulang jalan kaki. Jarak dari sekolah ke rumah tidaklah jauh, kira-kira 500 meteran lah. Bisa lebih kalo menghitungnya akurat. Aku selalu jalan kaki, pulang pergi ke sekolah. Sementara mbah kakung selalu mengendarai sepeda lanang ke tempat kerjanya sebagai Kebayan Desa. Sepeda mbah kakung sangat kokoh dan enak dikendarai. Meski kakiku belum sempurna menginjak seluruh pedal sepeda yang tinggi jika duduk di sedel, aku bisa melarikan sepeda mbah kakung sangat cepat. Aku terus berjalan mengikuti baying-bayang wajah mbah kakung dikepalaku.

Sampai dihalaman rumah. Mbah putri duduk-duduk di teras masjid, sambil merajut benang woll. Mungkin, mbah putri sudah melihatku melenggang sendirian. Ketika aku melewatinya beliau menghentikan langkahku dan langsung bertanya, “Pulangya nggak sama mbah kakung ?”
“Mbah kakung pulang duluan !” Aku mengatur nafas, “Mbah kakung kemana ya mbah ?” Aku pertanya.
“Yo, mboh. Tidak tahu ?
“Apa mbah kakung ke kantor Desa ?”
“Mbah nggak tahu, le.”
“Biasanya kemana mbah kakung ?. Khan tiap hari Sabtu pegawai negeri libur ?”
“Ya. Mungkin lagi jalan-jalan ?”
“Jalan-jalan kemana mbah ?” Aku terus bertanya.
“Ya. Jalan-jalan kemana-mana ?.” Jawaban mbah putri semakin lama kedengarannya bercanda.
“Mbah kakung tadi sudah pulang apa belum, ya mbah ?”
“Lho, tadi khan sama-sama kamu berangkatnya ?”
“Ya. Itu. Tadi mbah kakung pulang duluan nggak bilang-bilang.”
“Mbah kakung pulang duluan ?” Mbah putri, heran. “Mbah kakung pulang duluan, apa kamu yang duluan tinggalin mbah kakung ?” Mbah putri bercanda lagi. Sekarang gantian aku yang penasaran. Apa mbah putri tahu kejadian di sekolah tadi ?.

Pembagian raport semester pertama lalu, kejadiannya persis seperti sekarang. Tapi, waktu itu aku pamit pergi ke warung untuk sarapan. Mungkin aku kelamaan berada di warung bersama teman-teman. “Cul” mbah kakung sudah menghilang dari sekolah. Sesampai dirumah, raportku sudah ada dimejanya lengkap dengan tandatangan wali murid.

“Aku salin baju dulu mbah.”
“Yo, wis kono, makanannya ada di dapur !” Mbah putri menyuruhku makan, namun waktunya belum pas untuk makan siang.
“Iya, mbah !”.

Aku lari masuk rumah dan langsung menuju kamar mengambil pakaian ganti. Setelah mengambil kaos putih dan celana pendek hijau dari lemari pakaian, aku cepat-cepat ke kamar mandi. Tak sengaja mataku mampir di meja mbah kakung. Aku melihat buku tipis bersampul plastik berwarna biru langit. Aku langsung menyambar dan membukanya. “Alhamdulillah !” Perasaanku bangga, “nilai-nilai dalam raportku tidak ada merahnya ?”

Bekasi, 12 Februaaari 2009.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: