Oleh: infoeduspirit | Februari 17, 2009

SERPIHAN PERJALANAN

“Buuud ! Budiiii ! Awas kamu !” aku berteriak-teriak dari atas tanggul kali ‘dung’dung’.
“Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?” Budi kegirangan.
“Hei … Bud ! nggak punya otak kamu, ya !”
“Gitu aja kok takut ?”
“Itu ular beneran taaauuu !
“Siapa bilang ular bohongan ? Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?” Budi terus menertawaiku. Aku sudah marah besar, sejak dia tinggalkan aku di tengah sawah.
“Cah … edaaaaaan !” Aku terus mengomel.

Budi, telah memasukkan ular sawah ke dalam karung, yang sudah penuh berisi rumput. Bukan baru sekali ini, Budi berbuat seperti itu. Beberapa waktu lalu, ular lareangon dan anak ular air, sengaja dimasukkan dalam Karung goniku. Kadang-kadang ular itu ter-bawa sampai ke kandang kelinci. Bahkan, aku baru tahu ada ular di situ, ketika rumput-rumput itu habis dimakan kelinci-kelinciku.

Budi sangat berani dengan yang mana daripada ‘ular !’. Ular apa saja. Yang ada di sawah bahkan di kebun tebu. Ilmunya menangkap ular dan kebal terhadap gigitan ular lantaran mbah Slamet, seorang pawang ular di kampungku. Sebenarnya aku sama-sama berguru dengan mbah Slamet. Tapi aku paling takut dan jijik dengan yang namanya ular. Ular apapun itu.

Ketika ujian kenaikan tingkat, mbah Slamet memerintahkan aku dan Budi untuk mencari ular sendok dan ular weling. Mbah Slamet menginginkan aku dan Budi membawa ke rumahnya dalam keadaan hidup. Hampir seminggu aku dan Budi berburu ular. Urusan tangkap menangkap dan bongkar-membongkar sarang ular itu tugas Budi. Sementara, aku hanya bertugas membawakan karung, tempat ular-ular itu disimpan.

Kalau bukan mbah Slamet yang menyuruhku, pasti tidak pernah kujalani, mencari ular begini. Mbah Slamet sering bilang, aku dan Budi sudah kebal digigit ular, jadi ular apa saja yang menggigitku, ‘racun’nya tidak akan bereaksi dalam tubuhku. Tetapi aku tetap tidak yakin. Sehingga sampai hari ini aku paling takut dengan yang mana daripada ‘ular !’

“Itu berbahaya !. Kalo aku mati, kau mau tanggungjawab !”
“Kamu khan mati digigit ular ? bukan aku yang menggigitmu ? Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?”
“Bener-bener nggak punya otak !” Dari atas tanggul, aku langsung menceburkan tubu-hku tanpa melepas pakaian, ke dalam kali ‘dung-dung’, tepat di tubuh Budi yang sedang menertawaiku.
“Bbbyyuuur !”
“Aduh ! Aduhuuuh. Saakiiiiit !” Budi berteriak kesakitan.
“Syuukuuuuriiiiin. Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?” Aku gantian menertawainya.
“Adduuuuh. Pundakku ! Ngiluuuu !”
“Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?” Aku terus tertawa kegirangan. Dendamku terbalaskan.

Dengan tetap memasang kuda-kuda diatas air, aku siap menerima serangan balasan dari Budi. Budi menyelam beberapa detik. Aku tetap waspada. Dia pasti akan menyerangku dari dalam air. “Gawat !” Dia berusaha membuka celana pendekku dari dalam air. Aku berusaha melawannya. Terjadi pergumulan sengit antara aku dengan Budi.

“Kenaaaaaaa ?” Budi memenangkan pergumulan itu.
“Heeeiiii, awas ya !. Kembalikan celanaku !” Aku mengejarnya dengan gaya bebas tidak beraturan.
“Ha … ha … ha. Hi … hi … hi …. ?. Nggak bisaaaa ? Kejar aku kalo berani ?” Budi terus berenang dan mendekati anak-anak perempuan yang juga sedang mandi di kali.
“Kembalikan celanaku. Buuud !”
“Nggak bisa ! Kejar aku dulu ?” Budi terus menantangku.
“Heeeiiii … Nggak punya ottaaaak !” Aku terus berteriak sekeras-kerasnya.
“Ha … ha … ha. Hi … hi … hi ….. Kira-kira gimana ya ? Kalo celana ini kulempar ke sana ?” Budi membuatku tidak berdaya.
“Hei ! Budi !. Jangan main-main deeech. Aku serius ! Jangan. Jangan dilempar ke anak-anak itu. Tolong. Tolong dech Bud !. Jangan. Jangan dilempar, kembalikan celanaku Bud !” Aku tak berdaya.
“Iya. Iya dech, tapi janji ya ?”
“Iya. Iya. Aku harus janji. Apa !” Aku pasrah.
“Begini ? Kamu jangan marah ya ?
“Ayoo cepat! aku harus janji apa !” Aku sudah tidak sabar mendapatkan kembali celanaku.
“Kamu jangan marah ya ?”
“Iya. Aku sudah tidak marah kok !”
“Jangan marah ya ?”
“Ayo cepaaaat ! Aku harus janji apa lagi ?”
“Begini ?”
“Begini, apa ?” aku tidak sabar dan penasaran.
“Bagaimana kaloooo, Begginniiiiiiiiiiiiiiii ?” Dengan sangat cepat, Budi melemparkan celanaku ke kerumunan anak-anak perempuan di sudut selatan kali ‘dung-dung’, sambil berenang menjauhiku. Kontan saja anak-anak perempuan itupun histeris.
“Dasar gembluuuung ! nggak punya ottaaaaak ! ” aku berteriak sekenanya dan sejadi-jadinya. Sempurnalah ketidakberdayaanku. Celanaku mendarat, persis dikepala salah satu anak perempuan itu.

— *** —

Sore ini, matahari masih setinggi Merapi. Kelelahanku mencari rumput dan mandi di kali ‘dung-dung’ dengan Budi, masih menyisakan kekesalan. Kelelahanku menyiapkan pras-manan bagi kelinci-kelinciku yang manis, masih kelihatan menyenangkan. Setelah mem-bilas badan dengan sabun dan berpakaian rapi, aku ‘show of force’ berjalan ke luar. “Mungkin ada teman-teman yang masih bisa kuajak bercanda, sambil menunggu magrib.” Pikirku dalam hati.

Lima belas menit berlalu. Belum ada seorang pun yang berani mendekat dan menan-tangku. Pikiranku yang masih dalam genggaman, tiba-tiba lepas dan terbang sampai puncak merapi. Di langit yang biru aku menggambar wajahmu.

“Seingatku !” Tak ada yang menarik pada dirimu. Dari ujung rambut yang jatuh sebahu, sampai ujung kuku jempolmu, biasa-biasa saja. Pakaianmu yang sederhana. Wajah tanpa bedak dan gincu, menambah penampilanmu semakin biasa-biasa saja. Langkah kakimu tak pernah dijaga, apa adanya. Kata-kata yang melesat dari ujung bibir tipismu, juga biasa-biasa saja. “Begitulah adanya dirimu.” Dalam pikiranku yang biasa-biasa saja.

Perem¬puan tanggung, ‘made in’ kampung, Lugu dan banyak diam. Matanya hitam bulat dan kulit tanpa sisik, menambah perbendaharaan tentang dirimu yang biasa-biasa saja itu. Tapi entah kenapa, gambar wajahmu dilangit yang biru. Tidak lagi biasa-biasa saja. Sore itu, kamu lewat di samping rumah mbah kakung dengan terburu-buru. Dan entah bagaimana aku bisa-bisanya menggoda. “Ehem …ehemm ?” Kamu menatap wajahku dengan senyum yang tidak biasanya.

Setelah kamu berlalu. Aku cuma bisa melihat punggungmu. Aku terpahat di rambut hi-tammu. Sebelum ujung jalan itu sempurna menelanmu, langkah kakimu melambat menghentikan ruang dan waktu. Gambar wajahmu yang terlihat biasa-biasa itu ke-mudian menyambar perhatianku. “Ada pelangi !”

Tanpa aba-aba, angin dan burung-burung prenjak serentak menyanyikan laskar cinta. Berbaris dan menari seperti group musik ‘Dewa’. Bergantung di dahan kering. Di ranting pohon mangga. Di lubang-lubang dinding. Di atap rumah tua. Hatiku bergemuruh di pun-cak merapi.

“Ada pelangi. Ada pelangi !”
“Ada pelangi dibelakang rumah ?” Lamunanku tumpah memenuhi persepsiku tentang dirimu yang biasa-biasa saja itu.
“Ada matahari hanyut di parit-parit pematang sawah.”
“Ada Batari dikampungku sekarang ?”
“Ada senyum manis tertinggal disana, didasar jiwa yang belum pernah bisa kumengerti maknanya.”
“Ada damai disini !” Pikirku.
“Ya, ada ANI di sini sekarang.” Fikiranku terbang sendiri di atas merapi.

— *** —

Sore ini, aku duduk menunggu bedug magrib di bibir ‘buk’, jembatan kecil yang membe-lah kali dekat masjid. Dan dari sudut-sudut kesepianku saat ini, perasaan rindu pada orang tua dan adik-adik yang berada di Bekasi sering lahir tanpa sebab. Perasaan inipun sering segera pergi bersamaan dengan kehadiran teman-temanku Dion, Putut, Nanto, Budi dan Dodo. Mereka, teman-temanku, yang mengisi hari-hari ceriaku. Tapi, bukan main sepinya sekarang, ketika semilir angin kebun tebu merambah jalan aspal dan menerjang tubuhku dengan lembut.

Persis didepanku, jalan aspal yang dilewati mobil-mobil pengangkut hasil bumi dari desa Basin dan Nglarang. Sepi tidak ada yang lalu lalang. Sesekali ada orang bersepeda melintas, entah darimana. Sekali-sekali juga ada motor melintas, juga entah dari mana. Pejalan kaki, sore ini jarang melintas. Yang melintas di fikiranku hanya raut wajah te-man-temanku. Tinggal dalam perhentian ruang dan waktu. Pertama-tama yang terlintas dalam benakku adalah Dion.

Sekarang Dion sudah kelas VI SD, satu sekolah dengan Ani. Aku menjadi murid Kelas I SMP yang lokasinya hanya beberapa meter dari sekolah mereka. Sementara Putut dan Nanto, kakak beradik, satu sekolah denganku cuma beda kelas saja. Dan Budi yang se-jak kelas III SD tidak lagi menikmati bangku sekolah, lantaran orangtuanya tidak lagi sanggup membiayai sekolahnya. Kedua orangtua Budi juga sudah tidak lagi bersatu alias cerai. Setiap harinya Budi membantu tetangganya beternak ayam ras.

Dion yang beda satu kelas di bawahku, tidak pernah banyak ngomong. Apa saja yang kuucapkan, meskipun itu bohong, dia dengar saja tanpa protes. Ide, gagasan bahkan perintah apapun dariku tidak pernah tidak didengarkan, dan tidak pernah tidak dilak-sanakan. Perilakunya membuatku suka padanya. Bisa saja aku berniat jahat untuk seke-dar melampiaskan kepuasanku, namun menjadi tidak penting lagi ketika perasaan ke-manusiaanku mendominasi keinginanku, untuk mencari kenikmatan sesaat yang bakal kumiliki.

Biasanya, sore-sore begini, sebelum kesepianku membeku di kali, ia tiba-tiba duduk di-bibir ‘buk’ sebelahku. Tanpa sapa dan kata yang terucap, ia memandangi apa yang aku lihat. Padahal akupun tidak melihat apa-apa dengan mata kepalaku yang tetap melotot ini. Ketika aku menoleh kekiri, ia pun menoleh ke kiri. Ke kanan, ia pun melempar pan-dangannya ke kanan. Ke atas, ia pun tidak menyempatkan rasa penasarannya lama-lama, ia pun mendongak ke atas. Sering aku dikejutkan dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Tiba-tiba ada di samping atau dibelakangku. Tidak pernah kutahu dari mana arah kedatangannya. “Cluk !” dia tiba-tiba di dekatku. Tapi, mengapa sekarang dia tidak tiba-tiba berada di dekatku ? Kesepianku semakin memeluk erat tubuhku.

Langit diufuk barat mulai merona, sinar mentari sudah diujung pohon jambu. Aku masih di bibir ‘buk’ kali di depan masjid. Belum ada Dion disini. “Pasti dia datang dengan tiba-tiba.” Pikirku. Jika toh dia tidak datang juga, pasti sebentar lagi Putut dan Nanto datang ke masjid untuk shalat magrib.

Putut dan Nanto, kakak beradik, usianya cuma beda setahun. Mereka satu sekolahan denganku. Putut adalah kakak Nanto. Meski kakak beradik ini sehari-hari terlihat akrab, tapi yang aku tahu dia sering ribut hanya gara-gara masalah sepele. Kita sering bersama main badminton dilapangan milik Pak Guru Sobari. Putut dan Nanto, pasti rebutan raket untuk bisa main duluan. Salah satu dari mereka yang kalah, pergi meninggalkan lapan-gan badminton. Biasanya yang sering kalah dan pergi meninggalkan lapangan adalah kakaknya, Putut. Kalo sudah begini aku cuma bisa diam termangu dan menghentikan permainan. Sementara, Nanto tetap saja memainkan raket bandmintonnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Sembribit angin magrib sudah membisikkan bahwa mentari diujung barat tidak lagi bersinar. Aku tetap saja mematung, duduk menyilangkan kaki kiri dipunggung kaki kananku. Dibibir ‘buk’. Serangga malam sudah bersiap-siap senandungkan lagu kerin-duan. Namun lampu masjid yang dialiri listrik, sumbangan dari pabrik gula, belum juga menyala. Biasanya Dodo bertugas menyalakan listrik di masjid.

Dodo yang sehari-hari secara sukarela membantu menyapu halaman rumah mbah, mengisi bak mandi dan bak air wudhu, dari air sumur dan pompa tangan jaman belanda. Profesi utama Dodo adalah mencari rumput di pematang sawah dan kebun tebu untuk kambing-kambing milik orangtuannya yang gemuk dan sejahtera. Sama seperti Budi, Dodo juga tidak lagi sekolah setelah tamat SD tahun lalu. Ia sering tidur di Masjid depan rumah yang sudah diwaqafkan mbah untuk masyarakat di kampungku. Bersama Budi dan Dodolah aku mengurus rumah tua dan besar serta masjid masyarakat. Setiap malam Jum’at dan hari Jum’at, tidak ada sisa waktu untuk bermain dengan Putut, Nanto, Dion, Yayuk dan Ani. Waktuku habis dilahab oleh rumah tua dan besar itu. Masjid mesti disiram seluruh lantainya untuk Shalat Jum’at.

Kadang-kadang Budi, tapi lebih sering dodo, menemaniku menyabit rumput di pematang sawah. Rumput bagiku sebagai makanan lezat kelinci-kelinci Australi yang kuminta dari Om Harno, suami adik bapakku nomor enam. Sementara Dodo berpersepsi lain, baginya rumput hanya lantaran orang tuanya memelihara kambing. Itu saja. Yang lebih dia sukai, setelah karung goninya penuh dengan rumput, mandi di kali ‘dung-dung’. Lalu dalam perjalanan pulang ia memancing belut dipinggir-pinggir sawah, sambil teriak-teriak ke-senangan.

Kali ‘dung-dung’ adalah kali yang mengalir dari pabrik gula di depan kampungku. Airnya hangat dan bau belerang. Orang-orang yang sering mandi di kali ini mengatakan bahwa kali ini sangat keramat. Selain airnya bisa menyembuhkan semua penyakit kulit, banyak juga yang kemudian kesurupan gara-gara tidak menjaga kesopanan mandi di kali ‘dung-dung’. Masyarakat menamai kali ini sesuai dengan suara yang mereka dengar dari terowongan besar dimana arah kali itu berasal, dung ! … dung ! …. dung ! … dung !… dung !

Soal rumput merumput, Budi adalah sosok manusia yang tidak memiliki banyak ke-pentingan. Baginya, rumput itu bukan apa-apa, bukan siapa-siapa dan begitulah adanya sejak dahulu. Keikhlasannya membantuku mencari rumput tercermin dari kecepatannya memenuhi karung goni dengan berbagai rumput. Namun yang paling jahat menurutku, kadang-kadang Budi menaruh ular sawah atau ular apa saja di dalam karung goniku itu. Dia senang kalo kemudian, aku berteriak, kaget dan takut luar biasa. Dia tertawa terba-hak-bahak, lalu lari meninggalkanku sendiri ditengah sawah. Jika aku mau balas den-dam, aku mesti mampir di kali ‘dung-dung’. Tapi jika tidak, aku langsung pulang dan prasmanan dengan seluruh kelinci peliharaanku.

Tidak terasa, hari sudah mulai magrib, kelelawar beterbangan menyiapkan perbekalan untuk perburuan nanti malam. Teman-teman belum ada yang datang ke masjid. Semen-tara, fikiranku masih bising dengan masa lalu.

Kepindahan ku dari Bekasi ke pinggiran kota kabupaten di Jawa Tengah ini, untuk melan-jutkan pendidikan formalku, selepas sekolah dasar. Kedua orang tuaku dan adik-adik tinggal di Bekasi. Aku, dikampung ini, tinggal bersama kakek dan nenekku yang biasa kusapa mbah kakung dan mbah putri. Bukan soal kebetulan jika sekarang aku tinggal di rumah kedua mbahku di Klaten. Jauh-jauh hari sebelumnya, aku sudah berniat sekolah di kampong. Setiap musim lebaran, aku bersama keluarga besarku menyempatkan berkumpul di rumah tua dan besar ini.

Anak-anak Mbah kakung dan mbah putri semuanya delapan orang, bapakku berada pada urutan nomor satu. Mereka sudah tidak tinggal lagi bersama orang tuanya. Semua mer-antau. Ada di Jakarta, Bekasi, Bandung dan bahkan di kotanya sendiri, Klaten. Jika musim lebaran datang. Semua anak-anak mbah berkumpul bersama di rumah ini. Ka-dang-kadang tidak semua anaknya bisa mudik bersama-sama.

Meski kedua orangtuaku kurang merestui, tapi niatku sudah mengendalikan segalanya sampai di kampung ini. Sekarang aku sudah hampir enam bulan dirumah mbah kakung dan mbah putri. Aku sudah menjadi murid di salah satu SMP negeri milik pemerintah ke-camatan.

“Belum dipukul bedugnya ?” Suara itu memecah keheningan ruang dan waktu.
“Oh …, iya, ya !” Aku terkejut. Suara itu keluar dari bibir tipis Ani, yang sudah mengena-kan ‘Mukena’. Siap untuk Shalat Magrib di masjid.

Sejak senyumnya terdampar di belakang rumah mbah kakung sore itu, Ani bukan lagi perempuan biasa-biasa saja. Mukanya yang bulat dibatasi kain putih Mukena, seperti bu-lan purnama. Sinarnya menembus tulang-tulang rusukku.

“Ayo, nanti mbah Harjo marah lho !” perintahnya padaku.
“Iya, iya !” jawabku.
“Magrib sudah masuk nih,” sambil mununjuk waktu di jam tangannya.
“Biasanya yang pukul bedug Dodo, bukan aku.”
“Tidak apa-apa, yang penting bunyi ?”
“Iya, iya !” aku bergegas mengambil kayu pemukul bedug. Dan memukul sekeras-kerasnya. Ani menutup telinganya sambil meringis manis. Semakin manis Ani mena-tapku, semakin keras pukulanku.

“Heeeeeeiii … !” teriak mbahku melolong sampai ke ujung kampung.
“Weeeeeiis, ojo suweee-suweee !” teriakan susulan mbahku menambah bising suara bedug. Ani sudah lari terbirit-birit masuk ke dalam masjid, sebelum teriakan pertama mbah Harjo, selesai.
“Soppoooo kaaaeeee !”
“Aku mbaaaah !, ekoooo ?.” Jawabanku keras dan menentramkan kemarahannya. Tidak lama mbah kakung keluar dari pintu samping rumah, lengkap dengan sarung dan peci hitam yang agak kemerah-merahan.

“Sesuk meneh, ojo suwe-suwe yo lee … !” suaranya lirih tidak sekeras tadi.
“Nggih mbah.” Aku bergegas masuk rumah mengambil sarung dan wudhu. Tidak lama, suara adzan mbah kakung keluar dari TOA di atap masjid paling tinggi. Suaranya tidak pernah ada di TV-TV. Suara khas mbah Harjo. Tetangga kampung sudah mengenalinya dengan baik. Suaranya melengking tanpa beban. Terdengar ke seluruh kampung bahkan tiga kampung tetangga, pada saat Magrib, Isya’ dan Subuh. Sementara untuk Adzan Dzuhur dan Ashar lebih sering Dodo yang melantunkannya.

Selesai Adzan, mbah kakung melakukan shalat sunat dua rekaat. Kemudian berdiri di depan pintu masjid yang berdampingan dengan ruang wudhu. Seperti provost, ia men-jaga tempat wudhu agar terjaga ketertiban dan ketenangannya. Sudah menjadi kebi-asaan anak-anak remaja tanggung seperti aku, tempat wudhu adalah tempat yang paling asik untuk bercanda ria. Air yang seharusnya untuk membasuh muka, tangan dan kaki. Dibuang-buang untuk membasahi baju, sarung atau peci orang lain. Dengan tergang-gunya tempat wudhu maka shalatnya pun mulur beberapa menit. Alasan inilah yang menjadikan mbah kakung menjadi ‘provost polisi militer’ Masjid Al Mubarok. Kalau sudah seperti ini, tidak ada lagi canda ria di ruang wudhu. Semua berbaris tertib dibelakang orang yang sedang melakukan wudhu. Tidak berebut kran air yang cuma tiga batang itu. Bahkan berbisik-bisik pun akan menjadi bahaya besar jika mbah kakung mendengar. Mbah kakung sering marah jika ada suara di tempat wudhu.

“Ayo cepat-cepat-cepat-cepat !” Suara keras mbah kakung mempercepat gerakan wudhu para jama’ah. Mereka yang antri mulai keluar keringat dingin. Mereka yang sudah selesai wudhu, langsung masuk ke masjid. Tidak ada yang berani berdiri menunggu Iqomah di depan pintu atau di teras majid. Mereka yang masuk ke Masjid pun tidak berani melihat wajah mbah yang angker dan mengerikan itu.

Selesai menjadi provost di tempat wudhu, mbah kakung menepuk kedua telapak tang-gannya. “Plok !” Pertanda Iqomah sudah boleh dilantunkan. Aku clingak-clinguk kira-kira siapa yang mau berdiri melantunkan Iqomah. Budi belum datang, Dodo tidak ada.

Kemudian, mbah kakung menepuk kedua telapan tanggannya yang kedua, “Plok !” para Jama’ah sudah keluar keringat dingin, tidak ada yang berani berdiri. Persepsi mereka, Iqomah Magrib, Isya dan Subuh hanya milik Budi dan Dodo saja.

“Plok !” Kedua telapak tangan mbah kakung berbunyi sangat keras. Pada saat yang ber-samaan, tiga orang Jama’ah berdiri. Lantas duduk kembali. Berdiri lagi. Dan duduk lagi untuk selamanya. Akhirnya, mbak kakung melantunkan sendiri Iqomah Magrib, dengan suara yang memekakkan telinga.

Selesai mengimami Shalat Magrib, mbah kakung langsung berdiri di depan para Jama’ah. Beliau mengemukakan bahwa siapapun bisa melantunkan Iqomah. Tapi lafadz atau ba-caannya harus benar. Budi dan Dodo memang mampu melafadzkan Iqomah dan Adzan. “Mulai besok semuanya harus bisa. Titik !” Mbah kakung menegaskan kepada para Jama’ah.

Bekasi, 11 Februari 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: